Memotret pemandangan kota: 8 tips untuk mengambil gambar pemandangan kota yang dramatis
Kita semua pernah mengalami hal tersebut: kita pergi ke suatu kota, jatuh cinta dengan semua bangunan tinggi di sekitar kita, dan dengan santai mengambil foto cakrawala. Namun kemudian kita segera menyadari bahwa hasilnya sering kali tidak seperti yang kita lihat di kehidupan nyata— hasilnya buram, berbintik, dan kusam.

Kita semua pernah mengalami hal tersebut: kita pergi ke suatu kota, jatuh cinta dengan semua bangunan tinggi di sekitar kita, dan dengan santai mengambil foto cakrawala. Namun kemudian kita segera menyadari bahwa hasilnya sering kali tidak seperti yang kita lihat di kehidupan nyata— hasilnya buram, berbintik, dan kusam.

Memotret pemandangan kota memerlukan lebih dari sekadar mengarahkan kamera ke bangunan dan menekan tombol rana. Meskipun kamera mahal tidak diperlukan untuk membuat foto Anda terlihat menakjubkan, Anda tetap perlu mempelajari beberapa keterampilan dan memiliki banyak kesabaran untuk mendapatkan hasil yang Anda inginkan.

Ikuti delapan tips sederhana ini untuk menangkap kilauan lanskap kota sesuai dengan apa yang Anda lihat:

01. Dapatkan lensa yang tepat

Mari kita mulai dengan peralatan yang paling penting: lensa. Ada banyak pilihan di luar sana untuk memotret pemandangan kota.

Opsi yang umum digunakan adalah opsi lebar dan ultra lebar karena opsi ini dapat menyertakan lebih banyak adegan dibandingkan opsi lainnya. Anda bisa memulai dengan 24mm, yang dianggap sebagai sudut lebar, dan mulai serendah 10mm, yang merupakan ultra lebar.

Anda juga bisa menggunakan lensa standar seperti 35mm. (secara teknis dianggap sebagai lensa sudut lebar), atau 50mm. lensa. Panjang fokusnya sangat mirip dengan perspektif mata manusia, sehingga Anda dapat menangkap pemandangan seperti yang Anda lihat di dunia nyata.

Jika Anda menginginkan lebih banyak keserbagunaan, gunakan telefoto yang memungkinkan Anda memperbesar atau memperkecil pemandangan yang ingin Anda foto. Ada banyak pilihan yang tersedia, termasuk 24mm.-70mm. dan 70mm.-200mm. Kabar baiknya adalah Anda bahkan dapat menggunakan lensa kit Anda (biasanya 18mm - 55mm.), yang secara teknis merupakan telefoto, ketika Anda mulai memotret lanskap perkotaan.

02. Beralih ke Mode Prioritas Apertur

Saat Anda masih memulai, Anda tidak perlu terlalu khawatir menggunakan pengaturan yang rumit. Cukup beralih ke Aperture Priority, sehingga Anda dapat mengubah aperture yang Anda inginkan, dan kecepatan rana akan dipilih secara otomatis.

Karena Anda kebanyakan memotret dalam kegelapan, pilih aperture lebar untuk membiarkan cahaya masuk sebanyak mungkin. Namun perlu Anda ingat bahwa semakin lebar bukaan Anda, maka semakin dangkal depth of field (DOF). Untuk menjaga semuanya tetap tajam, jangan menggunakan aperture selebar mungkin. Misalnya, jika lensa Anda memiliki aperture maksimum f/1.8, gunakan f/2.8 sebagai gantinya.

Jika foto Anda masih terlihat lembut, silakan gunakan f/11 atau aperture yang lebih kecil lagi untuk menghasilkan DOF yang lebih dalam, yang membuat segalanya menjadi tajam. Akibatnya, kamera Anda akan secara otomatis memilih kecepatan rana yang lebih lambat, yang dapat mengakibatkan gerakan menjadi buram, namun selama kamera Anda menggunakan tripod, Anda tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.

03. Fokus secara manual

Fokus otomatis mungkin merupakan teman terbaik Anda di siang hari, namun bisa membuat Anda pusing jika mencoba menggunakannya untuk memotret bangunan di malam hari. Untuk menghindari masalah, matikan sepenuhnya dan gunakan fokus manual saja.

Pertama, putar cincin fokus hingga tak terhingga. Selanjutnya, lihat ke dalam jendela bidik atau layar dan periksa apakah seluruh pemandangan sudah fokus. Jika Anda perlu melakukan sedikit penyesuaian, cukup putar cincinnya sedikit ke kiri atau ke kanan hingga bangunan terjauh yang Anda lihat terlihat tajam.

Untuk memastikan semuanya fokus, lihat layar Anda dan perbesar bingkai dengan menekan tombol pembesar (yang memiliki simbol pembesar). Setelah Anda mendapatkan tampilan bangunan yang lebih baik, sesuaikan cincin fokus hingga gambar terlihat tajam.

04. Tiba di lokasi Anda lebih awal

Beberapa gambar cakrawala terbaik diambil pada saat jam emas (golden hour)—yaitu periode singkat setelah matahari terbit atau sebelum matahari terbenam ketika langit tampak oranye. Ini menciptakan latar belakang indah yang membuat langit penuh warna dan bangunan menonjol.

Anda akan terkejut betapa cepatnya matahari terbit atau terbenam, jadi Anda harus menangkapnya sebelum terlambat. Tiba di lokasi Anda sebelum fajar atau senja, dan siapkan peralatan Anda sebelum matahari terlalu rendah di cakrawala. Momen yang perlu Anda tunggu hanya berlangsung sekitar sepuluh menit—kurang lebih. Saat itulah langit cukup gelap sehingga lampu-lampu bangunan dapat terlihat, dan matahari mengintip di balik cakrawala hingga menyemburkan semburat jingga ke langit yang gelap.

Alasan lain mengapa Anda perlu tiba di lokasi lebih awal adalah untuk menghindari keramaian, terutama jika Anda berencana mengambil gambar di ruang publik. Hampir tidak ada orang di sekitar Anda pada dini hari, tetapi cobalah pergi ke tempat Anda setelah sarapan, dan Anda akan melihat orang-orang berjalan di depan lensa Anda sepanjang hari.

05. Bidik di dalam kamar hotel Anda

Salah satu titik pandang terbaik untuk memotret pemandangan kota adalah dari sudut yang sangat tinggi. Namun, tidak selalu mungkin untuk mengakses atap atau bukit tempat Anda bisa menikmati pemandangan kota yang indah. Solusi terbaiknya adalah dengan menyewa kamar hotel yang cukup tinggi untuk menawarkan perspektif yang bagus.

Namun, rintangan utama yang akan Anda temui saat memotret di kamar hotel adalah memotret melalui jendela kaca. Terkadang kotor, berkabut, dan mungkin terdapat pantulan yang tidak diinginkan. Untungnya, ada beberapa teknik yang dapat Anda gunakan untuk mengatasi kendala ini.

Pertama, matikan AC Anda untuk mencegah jendela berembun. Untuk menghindari pantulan dari kamera Anda atau apa pun di dalam ruangan, matikan lampu dan tutupi kamera Anda dengan kain atau handuk berwarna gelap. Anda juga dapat menempelkan logo kamera (yang biasanya berwarna putih) atau bagian mana pun dari kamera Anda yang menyala. Selain itu, Anda dapat menggunakan filter polarisasi untuk menghilangkan silau yang tidak dapat Anda hilangkan dengan handuk atau selotip. Terakhir, gunakan pemfokusan manual untuk memastikan cakrawala, bukan titik kotor di jendela, tetap tajam.

06. Lakukan eksposur braket

Pencahayaan sering kali menjadi rumit saat memotret pemandangan kota. Jika terdapat terlalu banyak sumber cahaya, sulit menentukan di mana mengukur eksposur Anda. Cara terbaik untuk memastikan Anda mendapatkan eksposur yang tepat adalah dengan menggunakan teknik yang disebut bracketing—atau mengambil serangkaian foto dengan eksposur yang bervariasi.

Untuk menerapkan bracketing, cari tombol kompensasi eksposur pada kamera Anda (ditandai dengan simbol plus dan minus). Tekan dan secara bersamaan sesuaikan tombol atau roda klik di bagian belakang kamera Anda hingga kurang pencahayaan sekitar dua atau tiga stop. Jika Anda melakukannya dengan benar, Anda akan melihat seluruh pemandangan menjadi lebih gelap saat Anda menyesuaikannya. Setelah Anda melakukan penyesuaian, tekan tombol rana. Ulangi prosesnya, tingkatkan eksposur secara bertahap hingga dua atau tiga stop pencahayaan berlebih.

Setelah selesai, Anda akan memiliki sekitar tiga hingga lima foto dari satu adegan. Inti dari memotret lanskap kota berkali-kali adalah untuk meningkatkan peluang Anda mendapatkan setidaknya satu eksposur dengan benar.

Namun, jika ternyata semuanya kurang terekspos, Anda memiliki opsi untuk memadukan bidikan tersebut menjadi satu gambar menggunakan alat pengeditan foto untuk membuat gambar rentang dinamis tinggi (HDR). Teknik ini pada dasarnya mengambil semua bagian yang terekspos dengan baik dari foto yang diberi tanda kurung dan menggabungkannya menjadi satu gambar yang terekspos dengan baik.

07. Melapisi jalur cahaya

Jika Anda ingin menangkap jejak cahaya seperti gambar di atas, akan lebih praktis jika beralih ke Speed Priority dibandingkan Aperture Priority. Untuk membuat efek ini, atur kecepatan rana Anda ke 10 detik atau lebih lama. Untuk eksposur yang lebih lama dari 30 detik, Anda dapat menggunakan Mode Bulb untuk menjaga rana tetap terbuka selama jari Anda menekan tombol. Semakin lama rana terbuka, semakin panjang garis-garisnya.

Namun, eksposur tunggal biasanya tidak cukup untuk menciptakan jejak cahaya yang tebal. Seringkali, gambar Anda memiliki garis-garis tipis yang tidak terlihat menarik. Yang dapat Anda lakukan adalah mengambil beberapa foto di lokasi yang sama dan menempatkan semua gambar menggunakan perangkat lunak pengedit foto (seperti pada tip no. 7). Hasilnya akan menampilkan banyak garis terang yang terlihat lebih intens dan menawan.

Jika Anda ingin memadukan garis cahaya tanpa menggunakan komputer, Anda dapat mencoba memotret beberapa eksposur dengan kamera Anda. Pilih Mode Multi Eksposur (tergantung pada kameranya, bisa berupa tombol, kenop, atau opsi menu), lalu pilih jumlah gambar yang ingin Anda sertakan dalam satu eksposur (tiga atau empat sudah cukup). Setelah selesai menyetel kamera, potret satu adegan beberapa kali, dan urutan gambar yang Anda potret akan secara otomatis ditumpangkan ke dalam satu foto. Saat berada dalam mode ini, ingatlah untuk tidak melepaskan perangkat Anda dari tripod dan menjaganya tetap pada satu posisi. Jika tidak, foto yang ditumpangkan tidak akan sejajar.

08. Sertakan refleksi

Untuk menambah dimensi pada lanskap kota, Anda dapat menangkap pantulan bangunan di perairan. Danau dan sungai seringkali merupakan pilihan terbaik karena jauh lebih tenang dibandingkan lautan. Saat air sedang deras, Anda tidak akan bisa melihat pantulan dengan baik.

Jika Anda ingin mengambil foto seperti yang Anda lihat di atas, ingatlah mantra ini: semakin tenang airnya, semakin baik pantulannya. Tunggu hari yang tenang tanpa banyak angin. Anda ingin mencari area yang tidak terganggu di mana Anda tidak melihat riak apa pun di air. Susun bidikan Anda sehingga cakrawala berada di tengah dan langit serta air kurang lebih berbagi ruang yang sama di atas dan di bawah.

Memotret pemandangan kota melibatkan banyak eksperimen. Dibutuhkan banyak klik sebelum Anda mendapatkan satu gambar hebat. Jangan takut untuk bermain-main dengan pengaturan kamera Anda karena ini akan membantu Anda mempelajari lebih lanjut tentang kamera Anda dan menguasai keterampilan yang sangat berharga dalam prosesnya.

Trending Now
|
Memotret pemandangan kota: 8 tips untuk mengambil gambar pemandangan kota yang dramatis
Kita semua pernah mengalami hal tersebut: kita pergi ke suatu kota, jatuh cinta dengan semua bangunan tinggi di sekitar kita, dan dengan santai mengambil foto cakrawala. Namun kemudian kita segera menyadari bahwa hasilnya sering kali tidak seperti yang kita lihat di kehidupan nyata— hasilnya buram, berbintik, dan kusam.

Kita semua pernah mengalami hal tersebut: kita pergi ke suatu kota, jatuh cinta dengan semua bangunan tinggi di sekitar kita, dan dengan santai mengambil foto cakrawala. Namun kemudian kita segera menyadari bahwa hasilnya sering kali tidak seperti yang kita lihat di kehidupan nyata— hasilnya buram, berbintik, dan kusam.

Memotret pemandangan kota memerlukan lebih dari sekadar mengarahkan kamera ke bangunan dan menekan tombol rana. Meskipun kamera mahal tidak diperlukan untuk membuat foto Anda terlihat menakjubkan, Anda tetap perlu mempelajari beberapa keterampilan dan memiliki banyak kesabaran untuk mendapatkan hasil yang Anda inginkan.

Ikuti delapan tips sederhana ini untuk menangkap kilauan lanskap kota sesuai dengan apa yang Anda lihat:

01. Dapatkan lensa yang tepat

Mari kita mulai dengan peralatan yang paling penting: lensa. Ada banyak pilihan di luar sana untuk memotret pemandangan kota.

Opsi yang umum digunakan adalah opsi lebar dan ultra lebar karena opsi ini dapat menyertakan lebih banyak adegan dibandingkan opsi lainnya. Anda bisa memulai dengan 24mm, yang dianggap sebagai sudut lebar, dan mulai serendah 10mm, yang merupakan ultra lebar.

Anda juga bisa menggunakan lensa standar seperti 35mm. (secara teknis dianggap sebagai lensa sudut lebar), atau 50mm. lensa. Panjang fokusnya sangat mirip dengan perspektif mata manusia, sehingga Anda dapat menangkap pemandangan seperti yang Anda lihat di dunia nyata.

Jika Anda menginginkan lebih banyak keserbagunaan, gunakan telefoto yang memungkinkan Anda memperbesar atau memperkecil pemandangan yang ingin Anda foto. Ada banyak pilihan yang tersedia, termasuk 24mm.-70mm. dan 70mm.-200mm. Kabar baiknya adalah Anda bahkan dapat menggunakan lensa kit Anda (biasanya 18mm - 55mm.), yang secara teknis merupakan telefoto, ketika Anda mulai memotret lanskap perkotaan.

02. Beralih ke Mode Prioritas Apertur

Saat Anda masih memulai, Anda tidak perlu terlalu khawatir menggunakan pengaturan yang rumit. Cukup beralih ke Aperture Priority, sehingga Anda dapat mengubah aperture yang Anda inginkan, dan kecepatan rana akan dipilih secara otomatis.

Karena Anda kebanyakan memotret dalam kegelapan, pilih aperture lebar untuk membiarkan cahaya masuk sebanyak mungkin. Namun perlu Anda ingat bahwa semakin lebar bukaan Anda, maka semakin dangkal depth of field (DOF). Untuk menjaga semuanya tetap tajam, jangan menggunakan aperture selebar mungkin. Misalnya, jika lensa Anda memiliki aperture maksimum f/1.8, gunakan f/2.8 sebagai gantinya.

Jika foto Anda masih terlihat lembut, silakan gunakan f/11 atau aperture yang lebih kecil lagi untuk menghasilkan DOF yang lebih dalam, yang membuat segalanya menjadi tajam. Akibatnya, kamera Anda akan secara otomatis memilih kecepatan rana yang lebih lambat, yang dapat mengakibatkan gerakan menjadi buram, namun selama kamera Anda menggunakan tripod, Anda tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.

03. Fokus secara manual

Fokus otomatis mungkin merupakan teman terbaik Anda di siang hari, namun bisa membuat Anda pusing jika mencoba menggunakannya untuk memotret bangunan di malam hari. Untuk menghindari masalah, matikan sepenuhnya dan gunakan fokus manual saja.

Pertama, putar cincin fokus hingga tak terhingga. Selanjutnya, lihat ke dalam jendela bidik atau layar dan periksa apakah seluruh pemandangan sudah fokus. Jika Anda perlu melakukan sedikit penyesuaian, cukup putar cincinnya sedikit ke kiri atau ke kanan hingga bangunan terjauh yang Anda lihat terlihat tajam.

Untuk memastikan semuanya fokus, lihat layar Anda dan perbesar bingkai dengan menekan tombol pembesar (yang memiliki simbol pembesar). Setelah Anda mendapatkan tampilan bangunan yang lebih baik, sesuaikan cincin fokus hingga gambar terlihat tajam.

04. Tiba di lokasi Anda lebih awal

Beberapa gambar cakrawala terbaik diambil pada saat jam emas (golden hour)—yaitu periode singkat setelah matahari terbit atau sebelum matahari terbenam ketika langit tampak oranye. Ini menciptakan latar belakang indah yang membuat langit penuh warna dan bangunan menonjol.

Anda akan terkejut betapa cepatnya matahari terbit atau terbenam, jadi Anda harus menangkapnya sebelum terlambat. Tiba di lokasi Anda sebelum fajar atau senja, dan siapkan peralatan Anda sebelum matahari terlalu rendah di cakrawala. Momen yang perlu Anda tunggu hanya berlangsung sekitar sepuluh menit—kurang lebih. Saat itulah langit cukup gelap sehingga lampu-lampu bangunan dapat terlihat, dan matahari mengintip di balik cakrawala hingga menyemburkan semburat jingga ke langit yang gelap.

Alasan lain mengapa Anda perlu tiba di lokasi lebih awal adalah untuk menghindari keramaian, terutama jika Anda berencana mengambil gambar di ruang publik. Hampir tidak ada orang di sekitar Anda pada dini hari, tetapi cobalah pergi ke tempat Anda setelah sarapan, dan Anda akan melihat orang-orang berjalan di depan lensa Anda sepanjang hari.

05. Bidik di dalam kamar hotel Anda

Salah satu titik pandang terbaik untuk memotret pemandangan kota adalah dari sudut yang sangat tinggi. Namun, tidak selalu mungkin untuk mengakses atap atau bukit tempat Anda bisa menikmati pemandangan kota yang indah. Solusi terbaiknya adalah dengan menyewa kamar hotel yang cukup tinggi untuk menawarkan perspektif yang bagus.

Namun, rintangan utama yang akan Anda temui saat memotret di kamar hotel adalah memotret melalui jendela kaca. Terkadang kotor, berkabut, dan mungkin terdapat pantulan yang tidak diinginkan. Untungnya, ada beberapa teknik yang dapat Anda gunakan untuk mengatasi kendala ini.

Pertama, matikan AC Anda untuk mencegah jendela berembun. Untuk menghindari pantulan dari kamera Anda atau apa pun di dalam ruangan, matikan lampu dan tutupi kamera Anda dengan kain atau handuk berwarna gelap. Anda juga dapat menempelkan logo kamera (yang biasanya berwarna putih) atau bagian mana pun dari kamera Anda yang menyala. Selain itu, Anda dapat menggunakan filter polarisasi untuk menghilangkan silau yang tidak dapat Anda hilangkan dengan handuk atau selotip. Terakhir, gunakan pemfokusan manual untuk memastikan cakrawala, bukan titik kotor di jendela, tetap tajam.

06. Lakukan eksposur braket

Pencahayaan sering kali menjadi rumit saat memotret pemandangan kota. Jika terdapat terlalu banyak sumber cahaya, sulit menentukan di mana mengukur eksposur Anda. Cara terbaik untuk memastikan Anda mendapatkan eksposur yang tepat adalah dengan menggunakan teknik yang disebut bracketing—atau mengambil serangkaian foto dengan eksposur yang bervariasi.

Untuk menerapkan bracketing, cari tombol kompensasi eksposur pada kamera Anda (ditandai dengan simbol plus dan minus). Tekan dan secara bersamaan sesuaikan tombol atau roda klik di bagian belakang kamera Anda hingga kurang pencahayaan sekitar dua atau tiga stop. Jika Anda melakukannya dengan benar, Anda akan melihat seluruh pemandangan menjadi lebih gelap saat Anda menyesuaikannya. Setelah Anda melakukan penyesuaian, tekan tombol rana. Ulangi prosesnya, tingkatkan eksposur secara bertahap hingga dua atau tiga stop pencahayaan berlebih.

Setelah selesai, Anda akan memiliki sekitar tiga hingga lima foto dari satu adegan. Inti dari memotret lanskap kota berkali-kali adalah untuk meningkatkan peluang Anda mendapatkan setidaknya satu eksposur dengan benar.

Namun, jika ternyata semuanya kurang terekspos, Anda memiliki opsi untuk memadukan bidikan tersebut menjadi satu gambar menggunakan alat pengeditan foto untuk membuat gambar rentang dinamis tinggi (HDR). Teknik ini pada dasarnya mengambil semua bagian yang terekspos dengan baik dari foto yang diberi tanda kurung dan menggabungkannya menjadi satu gambar yang terekspos dengan baik.

07. Melapisi jalur cahaya

Jika Anda ingin menangkap jejak cahaya seperti gambar di atas, akan lebih praktis jika beralih ke Speed Priority dibandingkan Aperture Priority. Untuk membuat efek ini, atur kecepatan rana Anda ke 10 detik atau lebih lama. Untuk eksposur yang lebih lama dari 30 detik, Anda dapat menggunakan Mode Bulb untuk menjaga rana tetap terbuka selama jari Anda menekan tombol. Semakin lama rana terbuka, semakin panjang garis-garisnya.

Namun, eksposur tunggal biasanya tidak cukup untuk menciptakan jejak cahaya yang tebal. Seringkali, gambar Anda memiliki garis-garis tipis yang tidak terlihat menarik. Yang dapat Anda lakukan adalah mengambil beberapa foto di lokasi yang sama dan menempatkan semua gambar menggunakan perangkat lunak pengedit foto (seperti pada tip no. 7). Hasilnya akan menampilkan banyak garis terang yang terlihat lebih intens dan menawan.

Jika Anda ingin memadukan garis cahaya tanpa menggunakan komputer, Anda dapat mencoba memotret beberapa eksposur dengan kamera Anda. Pilih Mode Multi Eksposur (tergantung pada kameranya, bisa berupa tombol, kenop, atau opsi menu), lalu pilih jumlah gambar yang ingin Anda sertakan dalam satu eksposur (tiga atau empat sudah cukup). Setelah selesai menyetel kamera, potret satu adegan beberapa kali, dan urutan gambar yang Anda potret akan secara otomatis ditumpangkan ke dalam satu foto. Saat berada dalam mode ini, ingatlah untuk tidak melepaskan perangkat Anda dari tripod dan menjaganya tetap pada satu posisi. Jika tidak, foto yang ditumpangkan tidak akan sejajar.

08. Sertakan refleksi

Untuk menambah dimensi pada lanskap kota, Anda dapat menangkap pantulan bangunan di perairan. Danau dan sungai seringkali merupakan pilihan terbaik karena jauh lebih tenang dibandingkan lautan. Saat air sedang deras, Anda tidak akan bisa melihat pantulan dengan baik.

Jika Anda ingin mengambil foto seperti yang Anda lihat di atas, ingatlah mantra ini: semakin tenang airnya, semakin baik pantulannya. Tunggu hari yang tenang tanpa banyak angin. Anda ingin mencari area yang tidak terganggu di mana Anda tidak melihat riak apa pun di air. Susun bidikan Anda sehingga cakrawala berada di tengah dan langit serta air kurang lebih berbagi ruang yang sama di atas dan di bawah.

Memotret pemandangan kota melibatkan banyak eksperimen. Dibutuhkan banyak klik sebelum Anda mendapatkan satu gambar hebat. Jangan takut untuk bermain-main dengan pengaturan kamera Anda karena ini akan membantu Anda mempelajari lebih lanjut tentang kamera Anda dan menguasai keterampilan yang sangat berharga dalam prosesnya.

Trending Now