Sejarah Singkat Menganai Warna Hitam dalam Fashion
Hitam adalah warna pokok dari hampir setiap lemari pakaian modern. Para ahli di bidang fesyen dan warna kulit telah menemukan bahwa warna hitam memiliki makna simbolis yang sangat beragam, termasuk penghematan, kebajikan, kekayaan, kecanggihan, erotisme, duka, dan kejahatan. Saat saya mengenakan pakaian serba hitam, saya merasa kuat, dan mungkin sedikit memberontak, namun makna simbolis yang mungkin diasosiasikan dengan pakaian saya jauh lebih penting bagi saya dibandingkan fakta bahwa warna hitam selalu terlihat fantastis. Bersih, mencolok, terlihat bagus untuk semua orang, dan mudah dipakai.

Hitam adalah warna pokok dari hampir setiap lemari pakaian modern. Para ahli di bidang fesyen dan warna kulit telah menemukan bahwa warna hitam memiliki makna simbolis yang sangat beragam, termasuk penghematan, kebajikan, kekayaan, kecanggihan, erotisme, duka, dan kejahatan. Saat saya mengenakan pakaian serba hitam, saya merasa kuat, dan mungkin sedikit memberontak, namun makna simbolis yang mungkin diasosiasikan dengan pakaian saya jauh lebih penting bagi saya dibandingkan fakta bahwa warna hitam selalu terlihat fantastis. Bersih, mencolok, terlihat bagus untuk semua orang, dan mudah dipakai.

Namun, warna hitam tidak selalu hadir dalam lemari pakaian sehari-hari. Faktanya, sebelum Abad Pertengahan, pakaian berwarna hitam sangat jarang ditemukan, karena proses pewarnaan yang memungkinkan produksi warna hitam pekat, gelap, dan mencolok belum dikembangkan. Secara pribadi, saya bahkan tidak dapat membayangkan sebuah dunia di mana saya tidak bisa begitu saja mengenakan celana jins hitam untuk dipadukan dengan atasan berwarna cerah apa pun yang baru saja saya beli. Namun, pada Abad Pertengahan, kebanyakan orang tidak boleh mengenakan pakaian berwarna cerah ATAU hitam, karena undang-undang tempat penampungan melarang semua orang kecuali kaum bangsawan mengenakan kain berwarna cerah atau bulu musang, satu-satunya tekstil hitam asli yang tersedia sebelum abad ke-14. Syukurlah, orang-orang kaya yang bukan bagian dari kelas bangsawan menuntut produksi pewarna hitam yang padat, cerah, sehingga mereka dapat menghindari larangan undang-undang tempat penampungan barang mewah.

Kisah tentang bagaimana pakaian hitam menempati tempatnya saat ini dalam mode modern sangat terkait dengan kelas. Meskipun warna ini awalnya hanya diperuntukkan bagi orang-orang terkaya dalam masyarakat, kini warna ini menjadi hal yang lumrah sehingga, sampai taraf tertentu, berfungsi sebagai simbol egalitarianisme. Kini, kulit hitam bersifat profesional, bersih, dan praktis, dan sebagian besar telah kehilangan hubungannya dengan kekayaan. Namun, pakaian formal berwarna hitam masih tetap diasosiasikan dengan kelas atas, meskipun berasal dari seragam kelas pekerja. Pakaian dasi hitam pria muncul pada periode yang disebut oleh psikoanalis John Carl Flugel sebagai “Penolakan Maskulin yang Hebat.” Pada pergantian abad ke-19, kata Flugel, “laki-laki melepaskan hak mereka atas segala bentuk ornamen yang lebih cerah, lebih gay, lebih rumit, dan lebih bervariasi.”

Menurut pendapat saya, ini adalah transisi yang sangat menyedihkan dalam fesyen pria. Seragam dasi hitam yang umum menggantikan kesan flamboyan dan imajinasi dalam pakaian pria. Salah satu pelopor tren keseragaman yang disayangkan ini adalah sosialita Inggris Beau Brummell, yang umumnya dianggap sebagai penemu pakaian dasi hitam. Pada awal abad ke-19, ia memuji dirinya sendiri karena “mengenakan manusia modern dengan celana, jas gelap, kemeja putih, dan linen bersih.” Brummell percaya bahwa persatuan adalah puncak dari mode, dan dia menyatakan bahwa “untuk menjadi benar-benar elegan, seseorang tidak boleh diperhatikan.” Pada awal abad ke-20, Coco Chanel menerapkan filosofi serupa pada pakaian wanita ketika ia mempopulerkan gaun hitam kecil. Sebuah artikel Vogue tahun 1926 menyebut LBD sebagai “Chanel’s Ford,” sebuah perbandingan yang menunjukkan aksesibilitas gaya tersebut kepada wanita dari semua kelas. Gaun tersebut memiliki gaya yang mirip dengan seragam pramuniaga dan wanita kelas pekerja lainnya, dan penerapannya ke dalam ranah haute couture berarti bahwa pakaian serba hitam akan menjadi gaya populer bagi wanita dari semua kelas selama beberapa dekade mendatang.

Sepanjang sisa abad ke-20, warna hitam menjadi andalan fashion pria dan wanita. Mengenakan warna hitam membangkitkan kesederhanaan dan kecanggihan, dan terkadang, pemberontakan dan protes. Misalnya saja pada tahun 1960-an, Black Panthers mengenakan jaket kulit hitam sebagai seragam revolusi. Pada tahun 1980-an, para pengunjuk rasa di Jerman Barat menciptakan Black Bloc, sebuah strategi protes di mana para pengunjuk rasa mengenakan pakaian serba hitam untuk membangun solidaritas dan agar tidak dikenali oleh polisi. Dalam beberapa tahun terakhir, pengunjuk rasa Black Lives Matter juga mengadopsi gaya tersebut.

Gaun wisuda Sarjana, Magister, dan Doktor Profesional Harvard berwarna hitam, kemungkinan besar disebabkan oleh asosiasi warna tersebut dengan profesionalisme. Ditambah lagi, kombinasi warna merah tua-hitam sangat mencolok. Entah itu dipakai sebagai indikasi kecanggihan, perlawanan, penghematan, atau sekadar kenyamanan, warna hitam tidak akan kemana-mana, dan pakaian hitam kemungkinan akan tetap menjadi pakaian pokok selama berabad-abad yang akan datang. Meskipun secara pribadi, saya menyukai warna hitam, terkadang warna ini terlalu dapat diandalkan. Hitam mungkin melengkapi lemari pakaian, tapi kita tidak boleh mengabaikan warna sama sekali. Keseragaman yang diberikan oleh dasi hitam memang bagus, tapi bayangkan sebuah pernikahan di mana semua tamunya mengenakan jubah brokat yang cerah dan penuh hiasan. Hitam itu bersih dan nyaman, tapi warnanya juga indah, dan saya yakin kunci fesyen terletak pada penerapan keduanya.

Trending Now
|
Sejarah Singkat Menganai Warna Hitam dalam Fashion
Hitam adalah warna pokok dari hampir setiap lemari pakaian modern. Para ahli di bidang fesyen dan warna kulit telah menemukan bahwa warna hitam memiliki makna simbolis yang sangat beragam, termasuk penghematan, kebajikan, kekayaan, kecanggihan, erotisme, duka, dan kejahatan. Saat saya mengenakan pakaian serba hitam, saya merasa kuat, dan mungkin sedikit memberontak, namun makna simbolis yang mungkin diasosiasikan dengan pakaian saya jauh lebih penting bagi saya dibandingkan fakta bahwa warna hitam selalu terlihat fantastis. Bersih, mencolok, terlihat bagus untuk semua orang, dan mudah dipakai.

Hitam adalah warna pokok dari hampir setiap lemari pakaian modern. Para ahli di bidang fesyen dan warna kulit telah menemukan bahwa warna hitam memiliki makna simbolis yang sangat beragam, termasuk penghematan, kebajikan, kekayaan, kecanggihan, erotisme, duka, dan kejahatan. Saat saya mengenakan pakaian serba hitam, saya merasa kuat, dan mungkin sedikit memberontak, namun makna simbolis yang mungkin diasosiasikan dengan pakaian saya jauh lebih penting bagi saya dibandingkan fakta bahwa warna hitam selalu terlihat fantastis. Bersih, mencolok, terlihat bagus untuk semua orang, dan mudah dipakai.

Namun, warna hitam tidak selalu hadir dalam lemari pakaian sehari-hari. Faktanya, sebelum Abad Pertengahan, pakaian berwarna hitam sangat jarang ditemukan, karena proses pewarnaan yang memungkinkan produksi warna hitam pekat, gelap, dan mencolok belum dikembangkan. Secara pribadi, saya bahkan tidak dapat membayangkan sebuah dunia di mana saya tidak bisa begitu saja mengenakan celana jins hitam untuk dipadukan dengan atasan berwarna cerah apa pun yang baru saja saya beli. Namun, pada Abad Pertengahan, kebanyakan orang tidak boleh mengenakan pakaian berwarna cerah ATAU hitam, karena undang-undang tempat penampungan melarang semua orang kecuali kaum bangsawan mengenakan kain berwarna cerah atau bulu musang, satu-satunya tekstil hitam asli yang tersedia sebelum abad ke-14. Syukurlah, orang-orang kaya yang bukan bagian dari kelas bangsawan menuntut produksi pewarna hitam yang padat, cerah, sehingga mereka dapat menghindari larangan undang-undang tempat penampungan barang mewah.

Kisah tentang bagaimana pakaian hitam menempati tempatnya saat ini dalam mode modern sangat terkait dengan kelas. Meskipun warna ini awalnya hanya diperuntukkan bagi orang-orang terkaya dalam masyarakat, kini warna ini menjadi hal yang lumrah sehingga, sampai taraf tertentu, berfungsi sebagai simbol egalitarianisme. Kini, kulit hitam bersifat profesional, bersih, dan praktis, dan sebagian besar telah kehilangan hubungannya dengan kekayaan. Namun, pakaian formal berwarna hitam masih tetap diasosiasikan dengan kelas atas, meskipun berasal dari seragam kelas pekerja. Pakaian dasi hitam pria muncul pada periode yang disebut oleh psikoanalis John Carl Flugel sebagai “Penolakan Maskulin yang Hebat.” Pada pergantian abad ke-19, kata Flugel, “laki-laki melepaskan hak mereka atas segala bentuk ornamen yang lebih cerah, lebih gay, lebih rumit, dan lebih bervariasi.”

Menurut pendapat saya, ini adalah transisi yang sangat menyedihkan dalam fesyen pria. Seragam dasi hitam yang umum menggantikan kesan flamboyan dan imajinasi dalam pakaian pria. Salah satu pelopor tren keseragaman yang disayangkan ini adalah sosialita Inggris Beau Brummell, yang umumnya dianggap sebagai penemu pakaian dasi hitam. Pada awal abad ke-19, ia memuji dirinya sendiri karena “mengenakan manusia modern dengan celana, jas gelap, kemeja putih, dan linen bersih.” Brummell percaya bahwa persatuan adalah puncak dari mode, dan dia menyatakan bahwa “untuk menjadi benar-benar elegan, seseorang tidak boleh diperhatikan.” Pada awal abad ke-20, Coco Chanel menerapkan filosofi serupa pada pakaian wanita ketika ia mempopulerkan gaun hitam kecil. Sebuah artikel Vogue tahun 1926 menyebut LBD sebagai “Chanel’s Ford,” sebuah perbandingan yang menunjukkan aksesibilitas gaya tersebut kepada wanita dari semua kelas. Gaun tersebut memiliki gaya yang mirip dengan seragam pramuniaga dan wanita kelas pekerja lainnya, dan penerapannya ke dalam ranah haute couture berarti bahwa pakaian serba hitam akan menjadi gaya populer bagi wanita dari semua kelas selama beberapa dekade mendatang.

Sepanjang sisa abad ke-20, warna hitam menjadi andalan fashion pria dan wanita. Mengenakan warna hitam membangkitkan kesederhanaan dan kecanggihan, dan terkadang, pemberontakan dan protes. Misalnya saja pada tahun 1960-an, Black Panthers mengenakan jaket kulit hitam sebagai seragam revolusi. Pada tahun 1980-an, para pengunjuk rasa di Jerman Barat menciptakan Black Bloc, sebuah strategi protes di mana para pengunjuk rasa mengenakan pakaian serba hitam untuk membangun solidaritas dan agar tidak dikenali oleh polisi. Dalam beberapa tahun terakhir, pengunjuk rasa Black Lives Matter juga mengadopsi gaya tersebut.

Gaun wisuda Sarjana, Magister, dan Doktor Profesional Harvard berwarna hitam, kemungkinan besar disebabkan oleh asosiasi warna tersebut dengan profesionalisme. Ditambah lagi, kombinasi warna merah tua-hitam sangat mencolok. Entah itu dipakai sebagai indikasi kecanggihan, perlawanan, penghematan, atau sekadar kenyamanan, warna hitam tidak akan kemana-mana, dan pakaian hitam kemungkinan akan tetap menjadi pakaian pokok selama berabad-abad yang akan datang. Meskipun secara pribadi, saya menyukai warna hitam, terkadang warna ini terlalu dapat diandalkan. Hitam mungkin melengkapi lemari pakaian, tapi kita tidak boleh mengabaikan warna sama sekali. Keseragaman yang diberikan oleh dasi hitam memang bagus, tapi bayangkan sebuah pernikahan di mana semua tamunya mengenakan jubah brokat yang cerah dan penuh hiasan. Hitam itu bersih dan nyaman, tapi warnanya juga indah, dan saya yakin kunci fesyen terletak pada penerapan keduanya.

Trending Now